Para Penanam Kebaikan adalah Para Dai yang Jujur, sedangkan Sebagian Pemanen Kebaikan Ini adalah Para Perusak dalam Dakwah
Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((لَا يَزَالُ اللَّهُ يَغْرِسُ فِي هَذَا الدِّينِ غَرْسًا يَسْتَعْمِلُهُمْ فِي طَاعَتِهِ))
‘Allah akan senantiasa menanam di dalam agama ini sebuah tanaman (generasi), yang mana Allah gunakan mereka di dalam ketaatan kepada-Nya.’ (Hadis hasan. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (No. 8) dari Abu ‘Inabah al-Khaulani raḍiyallāhu ‘anhu. Hadis ini dihasankan oleh al-Albani raḥimahullāh dalam as-Silsilah aṣ-Ṣaḥīḥah (No. 2442)
Dan di antara instrumen yang ditanam oleh Allah ‘Azza wa Jalla di dalam agama ini adalah: para dai serta ulama yang bijaksana lagi penyayang. Mereka adalah orang-orang yang mencurahkan seluruh energinya untuk menyebarluaskan nilai-nilai tauhid, sunah, ilmu, serta keluhuran moral (al-faḍīlah) di tengah umat manusia melalui pendekatan persuasif yang lembut, bijaksana, penuh kesabaran, serta kerja keras. Mereka mengorbankan segala hal yang berharga demi tujuan tersebut, baik di waktu malam maupun siang, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Mereka juga rela melakukan perjalanan dari satu negeri ke negeri lain, dari desa ke desa, dari kota ke kota, serta dari satu negara ke negara lain demi menggapai orientasi mulia ini.
Namun tragisnya, ketika tanaman dakwah tersebut telah tumbuh dengan tegak di atas batangnya (istawā az-zar‘u ‘alā sūqih), datanglah para penuai oportunis yang merusak tatanan dakwah. Mereka memotong (merusak) hasil kebaikan dan buah dakwah ini, lalu melemparkannya kepada setiap pihak yang tidak kompeten, baik yang bermutu rendah maupun sekadar ikut-ikutan (likulli sāqiṭatin wa lāqiṭah), serta kepada setiap orang awam jelata (man habba wa daraja).
Mereka mencerai-beraikan generasi muda dan hasil kerja keras kita ke berbagai faksi kelompok (al-jamā‘āt) lainnya, baik secara pembagian pasti maupun sisa (farḍan wa ta‘ṣīban — sebuah metafora analitis yang diadopsi dari hukum waris Islam). Akibatnya, generasi muda dan anak-anak kita justru diwarisi secara ideologis oleh pihak yang sama sekali tidak berhak menjadi ahli waris dakwah tanpa adanya jerih payah maupun tetesan keringat.
Semua kerusakan ini semata-mata terjadi akibat ulah si penuai pengangguran yang hanya duduk santai di atas sofa mewahnya (al-muttaki’ ‘alā arīkatih), meruntuhkan bangunan kebaikan ini melalui platform Facebook, X (Twitter), WhatsApp, dan berbagai jejaring sosial lainnya, lewat propaganda: “Si Fulan itu lembek (mumayyi‘), si Fulan itu ekstrem (mutasyaddid), si Fulan tercium bau bidah darinya, si Fulan tinggalkanlah oleh kalian, si Fulan boikotlah (hajr) dia…!” Anda akan menyaksikan figur perusak ini tertidur pulas dalam agenda kebaikan, namun berdiri tegak dan bergerak liar (hā’iman) di dalam pusaran konflik. Anda tidak akan pernah mendengar namanya disebut dalam kontribusi kebaikan, melainkan hanya jika angin konflik dan fitnah tengah berembus; barulah bintangnya bersinar dan namanya ramai diperbincangkan di berbagai majelis.
“Namun terlepas dari potret keprihatinan tersebut, kita tidak boleh terjatuh ke dalam pesimisme (lā nai’as). Kita tidak (sekadar) mengutip diksi analogi sebagaimana yang diuntaikan oleh sebagian pujangga:
مَتَى يَبْلُغُ الْبُنْيَانُ يَوْمًا تَمَامَهُ … إِذَا كُنْتَ تَبْنِيهِ وَغَيْرُكَ يَهْدِمُ؟!
‘Akankah sebuah bangunan dapat mencapai puncak kesempurnaannya pada suatu hari…’ ‘Jika engkau sendiri yang bersusah payah membangunnya, sementara orang lain justru meruntuhkannya?!’(Lihat: Jāmi‘ Bayān al-Ilm wa Faḍlih (Volume 1, Halaman 447). Bait syi’ir (pertama) ini merupakan gubahan karya Shalih bin Abdul Quddus.)
Sebaliknya, kita harus merekonstruksi narasi tersebut dengan optimisme dan menegaskan:
بَلَى يَبْلُغُ الْبُنْيَانُ يَوْمًا تَمَامَهُ … إِذَا كُنْتَ تَبْنِيهِ وَعَزْمُكَ صَارِمُ!
‘Tentu saja, bangunan itu pasti akan mencapai puncak kesempurnaannya pada suatu hari…’ ‘Apabila engkau konsisten membangunnya dibersamai dengan tekad kuat yang membaja!’
Bersambung…
Barakallahu fiikum. Mari dukung dan sebarkan Dakwah Sunnah agar semakin banyak umat yang mengenal Islam kaffah sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ingin membaca artikel inspiratif lainnya atau mengetahui profil lengkap kami? Silakan kunjungi beranda Multaqa Duat Indonesia sebagai pusat informasi kajian sunnah dan literatur Islam terpercaya.
“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)