Tidaklah samar bagi para dai bahwasanya gerakan dakwah ini pun tidak steril dari keberadaan orang-orang tersebut (para penyusup dan kaum munafik) pada masa turunnya wahyu (zaman at-tanzīl), maka terlebih lagi dengan zaman kita saat ini!
Sungguh Allah Ta‘ālā telah memetakan kepada kita di dalam kitab-Nya mengenai hakikat permusuhan setan, permusuhan kaum Yahudi, permusuhan kaum Nasrani, permusuhan kaum musyrik, serta permusuhan kaum munafik.
Allah Ta‘ālā berfirman:
﴿أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ﴾
‘Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.’ [QS. Yasin: 60].
Dan Dia Subḥānahu juga berfirman:
﴿لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا﴾
‘Pasti akan kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.’ [QS. Al-Ma’idah: 82].
Akan tetapi, Allah menegaskan secara spesifik mengenai karakteristik permusuhan kaum munafik melalui firman-Nya:
﴿هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ﴾
‘Merekalah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka.’ [QS. Al-Munafiqun: 4].
Hal ini dikarenakan kaum munafik merupakan musuh yang paling laten bagi umat Islam, sekaligus entitas yang paling membahayakan eksistensi umat secara mutlak.
Mereka senantiasa mendeformasi diri dan berkamuflase layaknya bunglon yang menyesuaikan diri dengan corak lingkungannya; memproyeksikan citra diri sebagai seorang saudara yang penuh empati dan tulus, yang tampak seolah-olah memiliki kepedulian yang membara terhadap Islam, gerakan dakwah, serta penegakan sunah. Padahal, realitas hakikinya mereka adalah serigala-serigala berbulu domba (berpakaian manusia). Orang yang dahaga akan mengira mereka sebagai oase air, dan seorang mukmin akan mengira mereka sebagai pilar penopang perjuangannya, padahal mereka justru menjadi kaki tangan musuh untuk meruntuhkannya. Sang mukmin mengira mereka adalah para pemberi nasihat yang loyal, padahal mereka adalah episentrum kebinasaan dan kehancurannya.
Mereka adalah komplotan yang giat melakukan destruksi di atas muka bumi, di mana hampir tidak ada satu pun ruang sosial maupun institusi yang steril dari infiltrasi mereka. Mereka bergerak secara senyap di balik layar (من وراء الكواليس) serta menusuk dari barisan belakang; di mana dimensi lahiriah mereka tampak penuh dengan bias rahmat, namun dimensi batiniah mereka justru menyimpan azab yang menghancurkan. Tingkat bahaya mereka jauh lebih mengerikan untuk sekadar dideskripsikan, dan terlampau besar untuk ditampung oleh lembaran-lembaran naskah maupun ruang sirkulasi buku.
Cukuplah bagi Anda sebuah konstatasi dari Zat Yang Maha Memiliki Keagungan dan Kemuliaan sebagai bukti:
﴿لَوْ خَرَجُوا فِيكُمْ مَا زَادُوكُمْ إِلَّا خَبَالًا وَلَأَوْضَعُوا خِلَالَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ﴾
‘Jika mereka berangkat bersamamu, niscaya mereka tidak akan menambah apa pun bagi dirimu selain kekacauan, dan merangsek maju di sela-sela barisanmu guna mengembuskan benih-benih fitnah di antaramu; sementara di tengah-tengah kamu sendiri ada orang-orang yang gemar mendengarkan (perkataan) mereka. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap orang-orang yang zalim.’ [QS. At-Tubah: 47].
Maka waspadalah terhadap mereka wahai segenap para dai, karena sesungguhnya Allah telah memberikan peringatan:
﴿وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ﴾
‘Dan di antara kamu ada orang-orang yang gemar mendengarkan (propaganda) mereka.’“
Dan dahulu tidak ada ruang bagi tumbuhnya kemunafikan maupun pergerakan kaum munafik di Makkah, hal itu dikarenakan jumlah umat Islam yang masih sedikit. Sehingga, apabila ada orang asing yang mencoba menyusup ke dalam barisan mereka, niscaya akan langsung teridentifikasi kedoknya. Kondisi mereka saat itu dianalogikan seperti aliran sungai yang ber-volume air sedikit; Anda dapat melihat kejernihannya yang berkilau tanpa tercemar oleh polutan apa pun. Namun, tatkala gerakan dakwah ini mulai menguat dan bertransformasi di Madinah, kaum munafik mulai menginfiltrasi ke dalamnya, sehingga bentangan dakwah pun membesar layaknya air bah raksasa (as-sail al-‘aẓīm) yang menggerus apa saja yang berada di kedua sisi bantaran jalannya, baik berupa pepohonan maupun batu-batuan.
Demikian pulalah yang terjadi di era kontemporer kita saat ini. Gerakan dakwah—segala puji hanya bagi Allah—telah mengalami ekspansi perluasan yang sangat masif. Oleh karena itu, jumlah kaum munafik yang menginfiltrasi ke dalam tubuh dakwah saat ini berlipat-lipat ganda (aḍ‘āf aḍ‘āf) dibandingkan dengan kuantitas mereka pada masa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, dengan tendensi untuk melakukan destruksi dan perusakan sistemik (al-fasād wa al-ifsād) di dalamnya. Mereka pun tidak bergerak dari satu faksi saja, melainkan dari berbagai latar belakang entitas yang berbeda, dan mereka telah merancang makar yang sangat besar terhadap dakwah, yaitu makar yang dilancarkan siang dan malam.
﴿وَإِنْ كَانَ مَكْرُهُمْ لِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ﴾
‘Padahal makar mereka itu (sangat besar) hingga sanggup meruntuhkan gunung-gunung.’ [QS. Ibrahim: 46].
Maka wahai para pengemban risalah, bertakwalah kepada Allah dalam menjaga eksistensi dakwah ini, dan peliharalah ia sebagaimana kalian memproteksi bola mata kalian sendiri. Sebab:
((كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ))
‘Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.’ (Muttafaq ‘Alaih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (No. 2554) dan Muslim (No. 1829) dari Ibnu Umar raḍiyallāhu ‘anhumā)
Guru kami, asy-Syaikh al-Wadi’i raḥimahullāh menegaskan: ‘Hendaknya Ahlussunnah selalu waspada terhadap penyusupan kaum munafik ke dalam barisan mereka. Allah Subḥānahū wa Ta‘ālā berfirman:
﴿لَوْ خَرَجُوا فِيكُمْ مَا زَادُوكُمْ إِلَّا خَبَالًا﴾
“Jika mereka berangkat bersamamu, niscaya mereka tidak akan menambah apa pun bagi dirimu selain kekacauan.“ [QS. At-Taubah: 47].
Lalu bagaimana formulasi untuk mendeteksi mereka? Mereka dapat diidentifikasi dengan cara menyerahkan otoritas urusan ini kepada ahli ilmu (para ulama) yang telah Allah iluminasikan (sinari) mata hati mereka, sebab merekalah figur yang mampu memposisikan segala sesuatu pada tempatnya yang proporsional. Allah Subḥānahū wa Ta‘ālā berfirman:
﴿وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ﴾
“Dan sekiranya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri (pemegang otoritas ilmu/pemerintahan) di antara mereka, niscaya orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya (secara tepat) dari mereka.“ [QS. An-Nisa’: 83]’ Selesai penukilan. (Gārat al-Asyriṭah 1/13)
bersambung…
Barakallahu fiikum. Mari dukung dan sebarkan Dakwah Sunnah agar semakin banyak umat yang mengenal Islam kaffah sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ingin membaca artikel inspiratif lainnya atau mengetahui profil lengkap kami? Silakan kunjungi beranda Multaqa Duat Indonesia sebagai pusat informasi kajian sunnah dan literatur Islam terpercaya.
“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)