Sesungguhnya sebagian dai dan masyayikh—yang terkadang hanya berselisih pandangan dengan saudaranya dalam satu atau dua variabel masalah yang masih menoleransi adanya ruang ijtihad (yasūgu fīhā al-khilāf)—justru bertindak sebagai penyulut api fitnah (konfrontasi internal) di tengah-tengah iklim dakwah. Mereka mengembuskannya melalui forum halakah, seminar, majelis-majelis diskusi, hingga diskursus literatur tulisan mereka.
Namun ironisnya, mereka kemudian berseru sekadar dengan lisan verbal (lisān maqāl) dan bukan dengan keteladanan sikap riil (lisān ḥāl): “Wahai para penuntut ilmu, janganlah kalian disibukkan oleh konflik internal, fokuslah pada penuntutan ilmu dan pergerakan dakwah!” Padahal, oknum dai tersebut adalah figur yang menanam benih konflik, sementara para santrilah yang menuai badai dampaknya.
Bahkan, oknum tersebut pulalah yang kerap mengintervensi serta menuntut para santri untuk menentukan sikap polarisasi (taḥdīd al-mawāqif), mengisolasi (hajr) siapa saja yang tidak sejalan dengannya, hingga terkadang sampai pada tahap memvonis bidah (tabdī‘) serta mem-boikot figur tersebut. Paradoks perilaku ini mengingatkan kita pada bait syi’ir analogi yang sangat mahsyur:
أَلْقَاهُ فِي الْيَمِّ مَكْتُوفًا وَقَالَ لَهُ … إِيَّاكَ إِيَّاكَ أَنْ تَبْتَلَّ بِالْمَاءِ»
‘Ia melemparkannya ke tengah lautan dalam kondisi tangan terikat rapat…’ ‘Lalu ia berteriak memperingatkan: Waspada! Jangan sampai tubuhmu basah terkena air!’
Maka fenomena ini—demi Allah—merupakan salah satu faktor yang menyayat hati serta membuat relung dada merana; yaitu tatkala Anda menyaksikan sekumpulan (fi’ām) para orang tua, pendidik, tokoh senior, serta figur teladan, kini tidak lagi memiliki sikap warak untuk menahan diri dari mengatakan apa yang tidak mereka implementasikan. Mereka pun tidak lagi memiliki rasa malu untuk melarang suatu perkara yang justru mereka sendiri terjerumus ke dalamnya.
Akibatnya, generasi muda (para santri) menyaksikan sebuah kontradiksi yang sangat transparan lagi memalukan (al-fāḍiḥ) dari para tokoh senior mereka. Hal ini mengondisikan mental generasi muda berada dalam labirin kebingungan (ḥairah) serta disorientasi psikologis (iḍṭirāb), yang membuat prinsip hidup mereka tidak dapat bersandar secara konsisten pada satu keadaan. Hingga muncullah sebuah pergolakan batin di mana masing-masing dari mereka mulai mempertanyakan: ‘Apa yang harus kuperbuat sementara figur ini adalah ayahku?! Bagaimana aku harus bersikap sedangkan sosok itu adalah guruku?! Apakah aku harus membenarkan keindahan retorika ucapan mereka berdua, ataukah aku justru mengadopsi keburukan perilaku mereka?!’ Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sebagai sasaran fitnah (ujian/kesesatan) bagi orang-orang kafir.
Bersambung..
Barakallahu fiikum. Mari dukung dan sebarkan Dakwah Sunnah agar semakin banyak umat yang mengenal Islam kaffah sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ingin membaca artikel inspiratif lainnya atau mengetahui profil lengkap kami? Silakan kunjungi beranda Multaqa Duat Indonesia sebagai pusat informasi kajian sunnah dan literatur Islam terpercaya.
“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)