Celaan terhadap sikap at-tanfīr (membuat manusia lari/menjauh dari kebenaran) telah termaktub di dalam syariat yang bijaksana melalui berbagai redaksi yang komprehensif dan variatif. Hal tersebut didasarkan pada implikasi dampak negatif (al-aḍrār) yang timbul akibat seorang dai terkontaminasi oleh kompromi destruktif ini. Sungguh, khazanah sunah nabawiyah yang sahih lagi eksplisit (ṣarīḥah) telah dipenuhi oleh instruksi larangan dari sikap tanfīr tersebut di dalam berbagai untaian hadis, yang paling artikulatif di antaranya adalah: Sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz dan Abu Musa raḍiyallāhu ‘anhumā tatkala beliau mengutus keduanya ke wilayah Yaman sebagai dai yang menyeru ke jalan Allah:
((يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا، وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا))
‘Permudahlah oleh kalian berdua dan jangan dipersulit, serta berilah kabar gembira dan jangan membuat manusia menjauh (berpaling)!’ (Muttafaq ‘Alaih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (No. 4341) dan Muslim (No. 1733)
Beliau ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
((إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ))
‘Sesungguhnya di antara kalian ada orang-orang yang membuat manusia berpaling/menjauh (dari koridor agama)!’ (Muttafaq ‘Alaih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (No. 7159) dan Muslim (No. 466) dari Abu Mas’ud raḍiyallāhu ‘anhu)
Dan Sang Pembuat Syariat Yang Maha Bijaksana (asy-Syāri‘ al-Ḥakīm) telah menganjurkan secara kuat untuk menyeru manusia melalui pilar hikmah, keteladanan/edukasi yang santun (al-mau‘iẓah al-ḥasanah), serta ruang dialektika diskusi dengan metodologi yang paling solutif dan aplikatif, sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:
﴿ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ﴾
‘Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.’ [QS. An-Nahl: 125].”
“Maka tindakan yang membuat manusia menjauh (tanfīr) dari agama yang hak serta gerakan dakwah yang jernih lagi murni—yang disebabkan oleh buruknya akhlak, kekeliruan dalam bersikap, atau ketidaktepatan dalam mengonstruksikan narasi khotbah dakwah, dan faktor sejenisnya—merupakan sebuah fatalitas kesalahan (khaṭa’ fādiḥ). Adalah sebuah kewajiban bagi seorang dai untuk menguasai metodologi (uslūb) dakwah secara komprehensif sebelum ia merambah masuk ke medan perjuangan ini. Sebab, manhaj dakwah Ahlussunnah itu dibangun di atas pilar standar kompetensi (kualifikasi/sertifikasi) sebelum dipekerjakan (at-ta’hīl qabla at-tasygīl).
Padahal, pada setiap ranah pekerjaan, profesi, maupun sektor keahlian praktis, tidak boleh ada yang berkecimpung di dalamnya melainkan figur yang telah memiliki tingkat kapabilitas ahli (itqān); anehnya, pengecualian justru terjadi pada ranah dakwah, di mana kita menyaksikan orang yang cakap maupun yang tidak cakap sama-sama merangsek masuk ke dalamnya. Bahkan banyak di antara mereka yang masuk ke ranah dakwah, bukannya memberikan kontribusi internal bagi dakwah, melainkan justru mengeksklusi (mengeluarkan) manusia dari esensi dakwah itu sendiri.
Guna mengontekstualisasikan urgensi makna ini agar lebih dekat dalam nalar Anda, sesungguhnya para pelaku bisnis duniawi saja sangat enggan untuk bermitra dengan orang yang tidak memiliki kecakapan manajerial perdagangan dan berpotensi membuat para pelanggan (pelanggan/pembeli) kabur; sebab menjalin kemitraan dengannya hanya akan menstimulasi kerugian materi. Maka jika demikian realitasnya, bagaimana mungkin para pemegang otoritas agama, ilmu, dan ketakwaan justru sudi bermitra dalam perjuangan dengan orang yang karakter dasar, metodologi, serta perilakunya justru membuat manusia menjauh dari agama dan dari jalan yang lurus (aṣ-ṣirāṭ al-mustaqīm), baik ia menyadari tindakannya tersebut maupun tidak. Padahal, setiap bidang keahlian memiliki aktor kompeten dan para pakarnya masing-masing (allu majālin lahū rijāluhū wa fursānuhuh). Maka jangan sampai para pemburu duniawi jauh lebih profesional daripada kita dalam ranah metodologi ini.
Perhatikan bagaimana mereka memoles komoditas dagangannya di hadapan para konsumen dengan pilihan redaksi terbaik dan diksi yang paling persuasif, dibersamai dengan sikap yang ramah, tebaran senyuman, serta memproyeksikan impresi kejujuran yang manipulatif—kecuali pelaku bisnis yang dirahmati Allah. Mereka mendeskripsikan barang dagangan mereka yang sebenarnya bermutu rendah (biḍā‘atahum al-muzjāh) dengan narasi hiperbolis seolah-olah produk tersebut turun dari langit; mengonstruksikan opini bahwa Anda adalah pihak yang merugi jika tidak membelinya, serta mendoktrin bahwa ini adalah kesempatan emas karena hidup adalah sekumpulan momentum peluang. Segala upaya tersebut tidak lain dilakukan demi kepentingan akselerasi pemasaran barang dan komoditas komersial mereka.
Maka dari itu, wahai para dai, kalian adalah figur yang paling berhak dan lebih utama untuk mengimplementasikan keluhuran akhlak dalam bermetode dakwah dengan tetap mengacu pada batasan-batasan syariat (aḍ-ḍawābiṭ asy-syar‘iyyah).
Terlebih lagi Allah telah menginstruksikan hal ini secara eksplisit dalam kitab-Nya melalui firman-Nya:
﴿وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا﴾
‘Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia.’ [QS. Al-Baqarah: 83], dan Dia berfirman:
﴿فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ﴾
‘Maka berbiatlah kamu berdua kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.’ [QS. Thaha: 44], serta berfirman:
﴿وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ﴾
‘Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.’ [QS. Al-Isra’: 53].
Demikian pula Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk bersikap ihsan (profesional/baik) dalam segala urusan melalui sabdanya:
((إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ…))
‘Sesungguhnya Allah telah mewajibkan sikap ihsan atas segala sesuatu…’ (Diriwayatkan oleh Muslim (No. 1955) dari Syaddad bin Aus raḍiyallāhu ‘anhu).
Sementara Anda adalah pembawa kebenaran hakiki, di mana fitrah dasar manusia pada hakikatnya telah terdesain (majbūlah) untuk menerima kebenaran ini. Adapun kebenaran paling agung yang Anda serukan dan gunakan sebagai instrumen dakwah adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah; namun terlepas dari keagungan esensinya tersebut, Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam tetap menekankan aspek estetika penyampaian lewat sabdanya:
زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ
‘Hiasilah Al-Qur’an itu dengan keindahan suara-suara kalian.’ (Hadis sahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (No. 18494) dan Abu Dawud (No. 1468) dari al-Bara bin ‘Azib raḍiyallāhu ‘anhumā. Hadis ini disahihkan oleh al-Albani raḥimahullāh dalam Ṣaḥīḥ Sunan Abī Dāwūd (No. 1320) dan al-Misykāt (No. 2199), serta disahihkan oleh guru kami, al-Wadi’i raḥimahullāh dalam aṣ-Ṣaḥīḥ al-Musnad Mimmā Laisa fī aṣ-Ṣaḥīḥain (No. 130).
Al-Imam Abdul Aziz bin Baz raḥimahullāh menegaskan: “Di antara karakteristik akhlak yang seyogianya Anda miliki wahai segenap dai, yaitu hendaknya engkau bersikap santun (ḥalīm) dalam dakwahmu, bersikap lemah lembut (rafīq) di dalamnya, serta memiliki daya tahan yang tinggi (mutāḥammil) lagi penyabar, sebagaimana rekonsiliasi yang telah dicontohkan oleh para rasul ‘alaihimuṣ-ṣalātu was-salām. Waspadalah terhadap sikap tergesa-gesa (al-‘ajalah), dan jauhilah perilaku anarkis (al-‘unf) serta kekerasan (asy-syiddah). Anda wajib berkomitmen pada kesabaran, kelapangan dada, serta kelembutan dalam aktivitas dakwahmu.
Sungguh, telah dipaparkan kepada Anda jajaran argumentasi (dalīl) mengenai urgensi hal tersebut, seperti firman Allah Jalla wa ‘Alā:
﴿ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ﴾
‘Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.’ [QS. An-Nahl: 125], dan firman-Nya Subḥānahu:
﴿فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ﴾
‘Maka berkat rahmat Allah-lah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka.’ [QS. Ali ‘Imran: 159] hingga akhir ayat, serta firman-Nya Jalla wa ‘Alā dalam rekonstruksi kisah Musa dan Harun:
﴿فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ﴾
‘Maka berbiatlah kamu berdua kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.’ [QS. Thaha: 44].
Dan di dalam untaian hadis sahih, Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memanjatkan doa:
اللَّهُمَّ، مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ
‘Ya Allah, barang siapa yang mengemban otoritas urusan umatku sedikit pun lalu ia menyulitkan/memberatkan mereka, maka persulitlah hidupnya. Dan barang siapa yang mengemban otoritas urusan umatku sedikit pun lalu ia berlaku lemah lembut kepada mereka, maka bersikap lembutlah kepadanya.’ Hadis ini ditakhrij oleh Muslim dalam kitab aṣ-Ṣaḥīḥ (Diriwayatkan oleh Muslim (No. 1828) dari Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā).
Maka wajib atasmu, wahai hamba Allah, untuk senantiasa mengedepankan sikap persuasif yang lembut dalam dakwahmu. Janganlah engkau memberikan beban sosiologis yang memberatkan manusia, jangan membuat mereka antipati terhadap agama, dan jangan mengusir mereka akibat perangaimu yang kaku (gilẓah), keterbatasan ilmumu (jahl), maupun metodologi penyampaianmu yang koersif (‘anīf), intimidatif (mu’żi), lagi destruktif.
Anda dituntut untuk tampil sebagai sosok yang santun, penyabar, fleksibel dalam manajerial (salis al-qiyād), bertutur kata lembut, serta memiliki retorika yang sejuk; sehingga dengan indikator tersebut engkau dapat mengintervensi (menyentuh) relung hati saudaramu dan memengaruhi orientasi hati objek dakwah (mad‘ū). Melalui pendekatan ini, mereka akan merasa familier (ya’nas) terhadap dakwahmu, menjadi lunak menerimanya, teredukasi olehnya, serta memberikan apresiasi dan rasa syukur kepadamu atas bimbingan tersebut. Adapun kekerasan (al-‘unf) pada hakikatnya hanyalah instrumen yang menjauhkan (munaffir) bukan mendekatkan, serta memecah belah (mufarriq) bukan menyatukan.” Selesai penukilan. (Majmū‘ Fatāwā Ibni Bāz 1/ 346)
Bersambung…
Barakallahu fiikum. Mari dukung dan sebarkan Dakwah Sunnah agar semakin banyak umat yang mengenal Islam kaffah sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ingin membaca artikel inspiratif lainnya atau mengetahui profil lengkap kami? Silakan kunjungi beranda Multaqa Duat Indonesia sebagai pusat informasi kajian sunnah dan literatur Islam terpercaya.
“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)