
Sumber : Kitab Zaghlud Dakwah
Sesungguhnya siapa saja yang hidup dan berinteraksi di tengah medan dakwah akan melihat dan mendengar realitas ini—sebuah realitas kelam yang tidak ada satu pun kekuatan selain Allah yang dapat menolaknya, serta sebuah kegoncangan (ar-rājifah) yang tidak ada yang mampu menyingkapnya selain Allah. Fenomena tersebut adalah tindakan penuntut ilmu pemula (ṣigār) yang berlomba mendahului para ulama senior (kibār) dalam memutuskan perkara-perkara berat; yang mana para ulama senior pun bisa kebingungan menghadapinya, dan sorban-sorban para rabi/ulama besar (‘amā’im al-aḥbār) bisa berguguran di dalamnya.
Maka, Anda akan menjumpai para penuntut ilmu yang masih belia/hijau dengan mudahnya membidahkan seseorang sebelum para ulama senior menyatakannya, dan mereka memerintahkan untuk memboikotnya (hajr) sebelum para ulama senior memerintahkannya. Bahkan, acapkali seorang murid yang masih kecil berani menghukumi gurunya sendiri sebagai ahli bidah. Semua kelancangan itu terjadi tidak lain karena faktor kebodohan (al-jahl) dan dorongan hawa nafsu (al-hawā).”
Dan menghukumi (status/manhaj) person-person tertentu termasuk ke dalam masalah ijtihadiah yang wajib dikembalikan urusannya kepada para ulama senior. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ
‘Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (secara mendalam) akan dapat mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri).’ [QS. An-Nisā’: 83]. [1]
Maka, masalah (saling memvonis) ini benar-benar telah bergolak dan mengguncang, menyebar ke timur dan ke barat, serta mencabik-cabik barisan dakwah hingga menyebabkannya menderita sakit kepala yang menahun (kronis). Akibatnya, kini urusan al-jarḥ wat-ta‘dīl (kritik akademis terhadap personal) sengaja diperbincangkan oleh tokoh senior maupun anak bawang, kaum pria maupun wanita, hingga orang alim maupun orang bodoh; dalam segala ukuran dan di seluruh tingkatan sosial.[2]
Padahal, para ulama yang kredibel dalam bidang al-jarḥ wat-ta‘dīl di sepanjang sejarah Islam itu jumlahnya sangat terbatas (eksklusif); bahkan Imam aż-Żahabī rahimahullāh[3] menghitung total keseluruhan mereka hanya mencapai 715 orang ulama.
Dan jumlah (715 orang) ulama al-jarḥ wat-ta‘dīl selama kurun waktu tujuh abad ini—dengan segala perbedaan era dan letak geografis mereka—merupakan jumlah yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan masa-masa keemasan riwayat tersebut; yang mana pada masa itu tingkat kebutuhan terhadap ilmu kritik perawi (al-jarḥ wat-ta‘dīl) justru sedang berada pada puncaknya.
Adapun hari ini, jumlah orang-orang yang gemar mencela (al-mujarriḥīn) dan memberikan stempel rekomendasi (al-mu‘addilīn) sebanyak itu (715 orang) sungguh dapat ditemukan hanya di dalam satu negara dan dalam satu waktu yang sama!
[1] Terdapat rekaman audio dari Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili ḥafiẓahullāh yang berjudul: “As-Ṣigāru Yaḥkumūna ‘alā al-Masyāyikh al-Kibār” (Para Pemula Menghakimi Ulama Senior), maka simaklah rekaman tersebut (sebagai anjuran bermanfaat).
[2] Syaikh Abdul Aziz al-Bura‘i ḥafiẓahullāh memiliki pemaparan yang sangat berharga mengenai topik ini, simaklah rekaman audionya, di mana beliau ḥafiẓahullāh menyatakan: “Ilmu al-jarḥ wat-ta‘dīl di zaman sekarang ini telah tersedia dalam segala ukuran baju: ada ukuran pria dewasa, ukuran wanita, sampai ukuran anak-anak.”
[3] “Żikru Man Yu‘tamadu Qauluhū fī al-Jarḥ wat-ta‘dīl” (Catatan Mengenai Para Ulama yang Ucapan Kritik-Rekomendasinya Diakui), dicetak di dalam satu kompilasi kitab: “Arba‘u Rasā’ila fī ‘Ulūm al-Ḥadīṡ” (Empat Risalah di dalam Ilmu Hadis) karya Imam aż-Żahabī rahimahullāh.
Bersambung…
Barakallahu fiikum. Mari dukung dan sebarkan Dakwah Sunnah agar semakin banyak umat yang mengenal Islam kaffah sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ingin membaca artikel inspiratif lainnya atau mengetahui profil lengkap kami? Silakan kunjungi beranda Multaqa Duat Indonesia sebagai pusat informasi kajian sunnah dan literatur Islam terpercaya.
“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)