Home » Perbedaan Pandangan antara Kelompok Mutasyaddid (Keras), Mutawassiṭ (Moderat), dan Mutasāhil (Longgar) dalam Masalah al-Jarḥ wat-Ta‘dīl di Era Kontemporer

Perbedaan Pandangan antara Kelompok Mutasyaddid (Keras), Mutawassiṭ (Moderat), dan Mutasāhil (Longgar) dalam Masalah al-Jarḥ wat-Ta‘dīl di Era Kontemporer

Sumber : Kitab Zaghlud Dakwah 

Para ulama tidaklah berada pada satu tingkatan yang sama dalam hal kedalaman ilmu, kematangan akal, kadar kedekatan agama, maupun dalam hal metodologi (manhaj). Metodologi para ahli hadis (manāhij al-muḥaddiṡīn) sebagai contohnya, sangatlah bervariatif: di antara mereka ada yang bersikap keras (mutasyaddid), ada yang berada di pertengahan (mutawassiṭ), dan ada yang longgar (mutasāhil). Kendati demikian, para ulama dari masing-masing tingkatan tersebut tidak pernah saling mencela, menjatuhkan, atau menyalahkan tingkatan yang lain.

Begitu pula yang kita saksikan di zaman kita saat ini. Kita melihat para ulama senior kita yang mulia memiliki ranah fokus yang berbeda-beda; di antara mereka ada yang bersikap sangat tegas terhadap ahli bidah, pengikut hawa nafsu, serta kelompok-kelompok sesat, lalu ia memfokuskan dirinya dalam menulis bantahan (rudūd) terhadap mereka—dan ia patut disyukuri (diapresiasi) atas dedikasinya tersebut.

Di antara mereka ada pula yang tidak mengambil porsi besar dalam hal membantah ahli bidah, melainkan menyibukkan dirinya dengan aktivitas menulis kitab (at-ta’līf), merestorasi manuskrip (at-taḥqīq), serta menilai validitas hadis (at-taṣḥīḥ wat-taḍ‘īf)—dan ia pun patut disyukuri atas hal tersebut. Sebagian lagi ada yang mendedikasikan dirinya dalam dunia pengajaran (at-tadrīs), ilmu fikih, akidah, serta tafsir, yang dengannya Allah memberikan kemanfaatan yang luar biasa luas bagi umat. Bahkan, ada sebagian ulama yang Allah kumpulkan di dalam dirinya seluruh bidang keilmuan yang terpisah pada ulama-ulama lainnya.

Meskipun jalur kontribusi mereka berbeda-beda, mereka tetap saling mencintai, saling menghormati, saling mendukung, serta saling memuji satu sama lain hingga mereka wafat meninggalkan dunia ini dalam keadaan harmonis seperti itu. Namun sayangnya, hari ini kita diuji dengan ulah sebagian pemuda yang memaksakan kehendak agar para da’i dan ulama mengikuti cara pandang, metodologi, serta gaya bahasa mereka dalam hal memperingatkan umat dari ahli bidah secara kaku (raf‘an wa khafḍan). Jika Anda tidak sejalan dengan gaya ekstrem mereka, maka Anda akan langsung dituduh sebagai orang yang lembek (tamayyu‘), bermudah-mudah (tasāhil), dan lalai (gaflah)[1]…

Dan di antara hal ganjil yang kita saksikan di era kontemporer ini adalah bahwasanya sebagian dari mereka bersikap sangat keras dan tajam terhadap orang-orang yang menyelisihi (kelompoknya) melalui lisan (maupun tulisan) mereka, padahal realitas kehidupan nyata mereka justru berbanding terbalik dari apa yang mereka koarkan tersebut. Sementara itu, sebagian orang yang dituduhkan atau dikatakan tentangnya bahwa dia termasuk orang-orang yang longgar/lembek (al-mutasāhilīn), justru Anda dapati dalam realitas kehidupan nyatanya dia adalah orang yang paling jauh dari ahli bidah dan pengikut hawa nafsu, meskipun intensitas bicaranya (kritiknya) terhadap mereka sangat sedikit.

Oleh karena itu, sikap keras terhadap orang yang menyelisihi kebenaran yang hanya terbatas pada ucapan (lisan/tulisan) semata, bukanlah standar (mīzān) yang valid untuk menghukumi siapa saja yang tidak sejalan dengannya sebagai orang yang longgar (tasāhil).”


[1] Syaikh Abdul Aziz al-Bura’i ḥafiẓahullāh menyatakan saat mengomentari poin ini: ‘Dan metode (yang menjadikan tingkat keagresifan lisan sebagai standar kebenaran) ini adalah metode yang tidak benar, bahkan keliru. Dampaknya, materi permusuhan/perselisihan (māddah al-khuṣūmah) telah mendominasi dan mendistorsi esensi dari ilmu al-jarḥ wat-ta‘dīl (kritik dan rekomendasi akademis).’ Selesai kutipan.

Bersambung…



Barakallahu fiikum. Mari dukung dan sebarkan Dakwah Sunnah agar semakin banyak umat yang mengenal Islam kaffah sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ingin membaca artikel inspiratif lainnya atau mengetahui profil lengkap kami? Silakan kunjungi beranda Multaqa Duat Indonesia sebagai pusat informasi kajian sunnah dan literatur Islam terpercaya.

“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

© 2026 Yayasan Multaqo Du'at Indonesia. All Rights Reserved.